![]() |
Presiden SBY bersama para pemimpin di Bali Democracy Forum 2014. |
NEWS - Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan segera berakhir. Namun, SBY dinilai menorehkan rapor merah terkait sejumlah kebijakan luar negerinya.
Forum Masyarakat Sipil Indonesia untuk Kebijakan Luar Negeri (Indonesia Civil Society Forum on Foreign Policy/ICFP) menyatakan, Indonesia sangat aktif mengikuti berbagai forum kerjasama internasional baik dalam G20, APEC, WTO, maupun ASEAN. Namun, keterlibatan tersebut belum mampu memenangkaan kepentingan nasional.
Aktivis ICFP, Khoirun Nikmah mengatakan, alih-alih menguntungkan, kebijakan luar negeri yang dilakukan SBY justru lebih banyak membawa kerugian bagi Indonesia.
"Baik dari sisi kerja sama ekonomi, politik, dan penegakan hak asasi manusia di Indonesia," ujarnya dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Minggu, 12 Oktober 2014.
Menurut Nikmah, kegagalan demi kegagalan yang ada memperlihatkan bahwa klaim keberhasilan peran diplomasi Indonesia yang ditunjukkan dalam keaktifan Presiden SBY di forum internasional adalah klaim yang semu dan tak mendasar. Sebab, sejumlah aktivitas diplomasi itu tak mendatangkan manfaat bagi rakyat Indonesia.
Dia bahkan menilai, kebanggaan SBY sebagai Cho-Chair dalam High Level Panel of Eminent Person of Post 2015 Development Agenda, Ketua ASEAN di tahun 2011, Ketua APEC di tahun 2013 dan tuan rumah KTM WTO 2013 serta secara reguler menyelenggarakan dialog demokrasi di Bali sejak 2008, tak lebih dari upaya pencitraan.
"Forum demokrasi di Bali itu ironis karena digelar pada saat demokrasi di Indonesia berada dalam ancaman setelah UU Pilkada mengakhiri era pilkada langsung yang demokratis."
ICFP terdiri dari berbagai organisasi seperti INFID, IGJ, WALHI, PWYP, WVI, PATTIRO, Migrant Care, ASPPUK, Koalisi Perempuan Indonesia dan Bina Desa.
Berikut daftar rapor merah kebijakan politik luar negeri SBY versi koalisi ICFP:
1. Gagal melindungi buruh migran.
2. Pemenuhan pangan bergantung impor.
3. Ekspor berbasis eksploitasi sumber daya alam.
4. Investasi lebih berpihak kepada korporasi ketimbang politik.
5. Diplomasi perubahan iklim minim implementasi di dalam negeri.
6. Ekstraktif industri dan tunduknya negara terhadap korporasi raksasa dan multinasional.
7. Transparansi dan akuntabilitas sektor sumber daya alam dan ekstraktif masih jauh dari harapan.
8. Ketiadaan komitmen pemerintah dalam mendorong penghormatan standar HAM dan perlindungan buruh anak.
9. Tidak mampu menangani pelarian dan penghindaran pajak.
10. Diplomasi kerja sama ekonomi yang semakin mendorong liberalisasi dan merugikan petani, nelayan, buruh, perempuan, dan usaha rakyat kecil.
Forum Masyarakat Sipil Indonesia untuk Kebijakan Luar Negeri (Indonesia Civil Society Forum on Foreign Policy/ICFP) menyatakan, Indonesia sangat aktif mengikuti berbagai forum kerjasama internasional baik dalam G20, APEC, WTO, maupun ASEAN. Namun, keterlibatan tersebut belum mampu memenangkaan kepentingan nasional.
Aktivis ICFP, Khoirun Nikmah mengatakan, alih-alih menguntungkan, kebijakan luar negeri yang dilakukan SBY justru lebih banyak membawa kerugian bagi Indonesia.
"Baik dari sisi kerja sama ekonomi, politik, dan penegakan hak asasi manusia di Indonesia," ujarnya dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Minggu, 12 Oktober 2014.
Menurut Nikmah, kegagalan demi kegagalan yang ada memperlihatkan bahwa klaim keberhasilan peran diplomasi Indonesia yang ditunjukkan dalam keaktifan Presiden SBY di forum internasional adalah klaim yang semu dan tak mendasar. Sebab, sejumlah aktivitas diplomasi itu tak mendatangkan manfaat bagi rakyat Indonesia.
Dia bahkan menilai, kebanggaan SBY sebagai Cho-Chair dalam High Level Panel of Eminent Person of Post 2015 Development Agenda, Ketua ASEAN di tahun 2011, Ketua APEC di tahun 2013 dan tuan rumah KTM WTO 2013 serta secara reguler menyelenggarakan dialog demokrasi di Bali sejak 2008, tak lebih dari upaya pencitraan.
"Forum demokrasi di Bali itu ironis karena digelar pada saat demokrasi di Indonesia berada dalam ancaman setelah UU Pilkada mengakhiri era pilkada langsung yang demokratis."
ICFP terdiri dari berbagai organisasi seperti INFID, IGJ, WALHI, PWYP, WVI, PATTIRO, Migrant Care, ASPPUK, Koalisi Perempuan Indonesia dan Bina Desa.
Berikut daftar rapor merah kebijakan politik luar negeri SBY versi koalisi ICFP:
1. Gagal melindungi buruh migran.
2. Pemenuhan pangan bergantung impor.
3. Ekspor berbasis eksploitasi sumber daya alam.
4. Investasi lebih berpihak kepada korporasi ketimbang politik.
5. Diplomasi perubahan iklim minim implementasi di dalam negeri.
6. Ekstraktif industri dan tunduknya negara terhadap korporasi raksasa dan multinasional.
7. Transparansi dan akuntabilitas sektor sumber daya alam dan ekstraktif masih jauh dari harapan.
8. Ketiadaan komitmen pemerintah dalam mendorong penghormatan standar HAM dan perlindungan buruh anak.
9. Tidak mampu menangani pelarian dan penghindaran pajak.
10. Diplomasi kerja sama ekonomi yang semakin mendorong liberalisasi dan merugikan petani, nelayan, buruh, perempuan, dan usaha rakyat kecil.






